Aku terlahir sebagai anak ke-empat di dalam keluargaku. Nama panjangku adalah Robertus radinal wijayanto. Aku terlahir pada tanggal 18 November 1992 dan kini aku telah berusia 17 tahun. Pada usia remaja ku ini, aku mencoba belajar untuk hidup mandiri, dengan tinggal di sebuah asrama khusus yang berdedikasikan bagi para calon-calon imam yang masih remaja dalam menjawab panggilan-Nya. Sungguh pilihan yang berat bagi ku. Mungkinkah aku yang manja ini bisa hidup di dalam sebuah lingkungan yang di tuntut untuk hidup mandiri. Ya sudahlah mau gimana lagi, semua ini sudah terjadi.
Semenjak aku kecil, aku sudah mencoba untuk hidup mandiri. Misalnya, ketika aku sedang menginginkan sesuatu, aku berusaha untuk menabung (mengumpulkan uang) untuk membeli barang yang ku inginkan tersebut. Namun pada dasarnya aku tetaplah seorang anak kecil yang tidak dapat melakukan segalanya dengan sendiri. Dalam artian lain, bahwa aku juga seorang anak yang manja seperti pada umumnya anak-anak yang seumuran denganku ketika itu.
Namun kini aku telah beranjak dewasa, sudah seharusnya bagi diriku untuk tidak lagi menjadi anak yang manja. Setelah kurang lebih dua tahun aku tinggal di Seminari, banyak sekali manfaat-manfaat dan pengalaman-pengalaman hidup yang sungguh-sungguh mengubahku sebagai orang yang dewasa dan mandiri. Selama hidup di Seminari, aku bisa merasakan kalau diriku ini telah diolah secara tidak sadar melalui berbagai macam dinamika kehidupan yang ada, dan menjadi seorang pribadi yang dewasa dan disiplin. Memang sangatlah sulit bagiku, namun itulah harga yang harus ku bayarkan demi mendapatkan hasil yang lebih melimpah.
Entah kenapa aku bisa di terima dan masuk menjadi seorang seminaris. Kalau dilihat dari hasil tes, kemungkinan besar pasti aku tak akan diterima. Karena banyak sekali soal yang aku jawab dengan cara “nembak”, jadi aku begitu pasrah mengenai hasilnya. Aku tidak memikirkan aku diterima atau tidak, namun aku berharap aku dapat membanggakan orangtua dan menemukan jalan yang terbaik. Namun aku begitu bingung ketika ada seorang tukang pos yang datang kerumah ku, dan memberikan aku sebuah surat yang ternyata isinya kalau aku telah diterima dan lolos untuk masuk ke Seminari. Bagiku ini adalah hal yang gila, dan tak bisa kubayangkan.
Keluargaku menginginkan agar aku dapat benar-benar menjadi seorang pastor. Memang sewaktu kecil aku mencita-citakan diriku untuk menjadi seorang pastor. Namun kini keadaan sedikit mengubah tujuanku akan cita-citaku semasa kecil. Aku tak yakin kalau diriku nantinya dapat menjadi seorang pastor. Semuanya itu kini ku jalani dengan pasrah saja. Dan aku hanya dapat berharap, supaya semoga saja Tuhan dapat dengan sungguh-sungguh membimbingku ke jalan yang baik bagi hidupku kini dan kelak.
Pasti banyak orang akan bertanya “Kenapa aku mau masuk ke Seminari, kalau aku tidak yakin akan menjadi seorang pastor?”. Memang sih ada sedikit dorongan dalam diriku yang membuatku ingin mencoba menjawab panggilan-Nya. Tetapi bisa saja aku mengurungkan niatku untuk masuk Seminari, kalau aku hanya mementingkan diriku sendiri. Namun yang hingga kini membuatku bertahan untuk tetap tinggal di Seminari adalah karena betapa bangganya keluargaku kepada diriku karena aku mau menjadi pelayan Tuhan, terutama orangtuaku. Harapan dan juga dorongan mereka yang sangat besar kepadaku membuatku tidak dapat menolak karena memikirkan diriku sendiri. Aku tidak ingin membuat mereka kecewa. Aku tak ingin menjadi orang tak berguna bagi mereka. Dan melalui hal itu aku sangatlah ingin membuktikanbahwa aku memang benar-benar dapat membahagiakan mereka.
Tetap bertahan di Seminari dengan segala lika-likunya, adalah tantangan dan juga beban yang sangat berat bagiku. Dan itulah tanggung jawabku. Dalam hidup ini, masing-masing orang memiliki tugasnya sendiri-sendiri. Kita harus mampu menghadapi dan juga menyelesaikan tugas kita meskipun diperlukan sebuah pengorbanan besar. Tuhan Yesus telah rela berkorban demi kita manusia hingga titik darah penghabisan dan wafat di kayu salib. Pengorbanan-Nya sangatlah besar dan mungkin tidak sebanding dengan semua pengorbanan yang kita lakukan.
Melalui kenyataan ini aku belajar bahwa aku hidup di dunia ini memang untuk menghadapi seluruh rintangan yang menghadang diri ku. Aku tidak bisa bersantai-santai dan kabur dari permasalahan yang ku hadapi, atau aku akan mati karena terbelit oleh banyaknya masalah-masalah yang akan selalu menghampiri ku. Tuhan akan bekerja kepada orang yang mau berusaha. Namun setan bekerja kepada orang yang hanya berdiam diri serta mengosongkan hatinya, pikirannya dan juga kepercayaannya.
Mungkin melalui keluarga yang ku miliki dan juga orang-orang yang berada di sekitar ku, Tuhan telah menunjukan bahwa Ia berada dan juga bersama-sama bekerja dengan ku. Dengan kehadiran dan juga dukungan dari keluarga ku, dan kini aku menjadi lebih dikuatkan dalam menapaki setiap langkah yang ku jalani. Karena keluargaku adalah semangat panggilanku.
Robertus Radinal Wijayanto
Semenjak aku kecil, aku sudah mencoba untuk hidup mandiri. Misalnya, ketika aku sedang menginginkan sesuatu, aku berusaha untuk menabung (mengumpulkan uang) untuk membeli barang yang ku inginkan tersebut. Namun pada dasarnya aku tetaplah seorang anak kecil yang tidak dapat melakukan segalanya dengan sendiri. Dalam artian lain, bahwa aku juga seorang anak yang manja seperti pada umumnya anak-anak yang seumuran denganku ketika itu.
Namun kini aku telah beranjak dewasa, sudah seharusnya bagi diriku untuk tidak lagi menjadi anak yang manja. Setelah kurang lebih dua tahun aku tinggal di Seminari, banyak sekali manfaat-manfaat dan pengalaman-pengalaman hidup yang sungguh-sungguh mengubahku sebagai orang yang dewasa dan mandiri. Selama hidup di Seminari, aku bisa merasakan kalau diriku ini telah diolah secara tidak sadar melalui berbagai macam dinamika kehidupan yang ada, dan menjadi seorang pribadi yang dewasa dan disiplin. Memang sangatlah sulit bagiku, namun itulah harga yang harus ku bayarkan demi mendapatkan hasil yang lebih melimpah.
Entah kenapa aku bisa di terima dan masuk menjadi seorang seminaris. Kalau dilihat dari hasil tes, kemungkinan besar pasti aku tak akan diterima. Karena banyak sekali soal yang aku jawab dengan cara “nembak”, jadi aku begitu pasrah mengenai hasilnya. Aku tidak memikirkan aku diterima atau tidak, namun aku berharap aku dapat membanggakan orangtua dan menemukan jalan yang terbaik. Namun aku begitu bingung ketika ada seorang tukang pos yang datang kerumah ku, dan memberikan aku sebuah surat yang ternyata isinya kalau aku telah diterima dan lolos untuk masuk ke Seminari. Bagiku ini adalah hal yang gila, dan tak bisa kubayangkan.
Keluargaku menginginkan agar aku dapat benar-benar menjadi seorang pastor. Memang sewaktu kecil aku mencita-citakan diriku untuk menjadi seorang pastor. Namun kini keadaan sedikit mengubah tujuanku akan cita-citaku semasa kecil. Aku tak yakin kalau diriku nantinya dapat menjadi seorang pastor. Semuanya itu kini ku jalani dengan pasrah saja. Dan aku hanya dapat berharap, supaya semoga saja Tuhan dapat dengan sungguh-sungguh membimbingku ke jalan yang baik bagi hidupku kini dan kelak.
Pasti banyak orang akan bertanya “Kenapa aku mau masuk ke Seminari, kalau aku tidak yakin akan menjadi seorang pastor?”. Memang sih ada sedikit dorongan dalam diriku yang membuatku ingin mencoba menjawab panggilan-Nya. Tetapi bisa saja aku mengurungkan niatku untuk masuk Seminari, kalau aku hanya mementingkan diriku sendiri. Namun yang hingga kini membuatku bertahan untuk tetap tinggal di Seminari adalah karena betapa bangganya keluargaku kepada diriku karena aku mau menjadi pelayan Tuhan, terutama orangtuaku. Harapan dan juga dorongan mereka yang sangat besar kepadaku membuatku tidak dapat menolak karena memikirkan diriku sendiri. Aku tidak ingin membuat mereka kecewa. Aku tak ingin menjadi orang tak berguna bagi mereka. Dan melalui hal itu aku sangatlah ingin membuktikanbahwa aku memang benar-benar dapat membahagiakan mereka.
Tetap bertahan di Seminari dengan segala lika-likunya, adalah tantangan dan juga beban yang sangat berat bagiku. Dan itulah tanggung jawabku. Dalam hidup ini, masing-masing orang memiliki tugasnya sendiri-sendiri. Kita harus mampu menghadapi dan juga menyelesaikan tugas kita meskipun diperlukan sebuah pengorbanan besar. Tuhan Yesus telah rela berkorban demi kita manusia hingga titik darah penghabisan dan wafat di kayu salib. Pengorbanan-Nya sangatlah besar dan mungkin tidak sebanding dengan semua pengorbanan yang kita lakukan.
Melalui kenyataan ini aku belajar bahwa aku hidup di dunia ini memang untuk menghadapi seluruh rintangan yang menghadang diri ku. Aku tidak bisa bersantai-santai dan kabur dari permasalahan yang ku hadapi, atau aku akan mati karena terbelit oleh banyaknya masalah-masalah yang akan selalu menghampiri ku. Tuhan akan bekerja kepada orang yang mau berusaha. Namun setan bekerja kepada orang yang hanya berdiam diri serta mengosongkan hatinya, pikirannya dan juga kepercayaannya.
Mungkin melalui keluarga yang ku miliki dan juga orang-orang yang berada di sekitar ku, Tuhan telah menunjukan bahwa Ia berada dan juga bersama-sama bekerja dengan ku. Dengan kehadiran dan juga dukungan dari keluarga ku, dan kini aku menjadi lebih dikuatkan dalam menapaki setiap langkah yang ku jalani. Karena keluargaku adalah semangat panggilanku.
Robertus Radinal Wijayanto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar