What's time is it

Minggu, 21 November 2010

Jual Char Bellato NEBULA

Char 1
Harga : FE = 350k, Polos = 150k<<<<<<


LV : 51 (Berseker) 16%
Armor :  Kepala, baju, celana SS (50) +4 favor 
              tangan SS 50 +3
              int. kaki (47)+5mercy
Equip : VE+6 = 75k
           injure intense beam saber +4 chaos ; 
           injure  pistol lv 15+1 hatred
           Perisai Soul 47 slot poll
           boster lv 40 slot poll +2 chaos
Dalant : cukup buat modal hidup
Amulet : Amu shop 15% Hp permanen
              Amu ser 10%
              Amu hin 20 sepasang
              Vampir 1 biji
Cincin : Cincin shop 15% HP ada 2
             cincin ele 20/25 serhin dan 20/20 sehin
PT : Serangan = GM
       Pertahanan = GM
       Perisai = 72
       Jarak Jauh = 23
       Force =28


CP :127k++  (Caters)
 Di bank masih bnyk barang" menarik....
Masih ada 2 char lainnya....... 


Beli :
flame predator /  dark frog & giant mutant sepasang
Dalant @M = 50k

Senin, 07 Juni 2010

 Gantungan Kunci

Tanggal 6 Juni sampai 10 Juni yang lalu, sekolah gw ngadain sebuah program pembelajaran yang namanya studi ekskursi. Tahun ini, studi ekskursi angkatan gw dibina dan didampingi langsung oleh para anggota tim KOMPAS untuk membuat sebuah berita koran dalam kurun waktu tiga hari *Tiga hari! lama banget, kata gw sok hebat.
Nah, untuk membuat berita koran itu, para siswa-siswi kelas 10 dibagi dalam 25 kelompok yang beranggotakan masing-masing kelompok 10 sampai 12 murid yang berasal dari tiap kelas yang berbeda. Dan gw masuk ke dalam sebuah kelompok yang kelihatannya suram, tapi sebenarnya "memang suram" yaitu kelompok dua, yang beranggotakan sepuluh monyet yang "untungnya" cerdas. Siapa sajakah monyet-monyet beruntung yang menjadi anggota kelompok gw? mereka adalah Ocha, Karin, Andi, Nauval, Vita, Andi, Flavia, Akri, Jasmine, dan Bento *Bento itu gw. Oia, nama kelompok gw itu LIBERTI yang artinya Liputan Berita Terkini *Nama kelompoknya aja udah menarik, bagaimanakah dengan isinya? Sama sekali enggak!! T_T.......
Pada awalnya sih kelompok gw memang terlihat seperti orang-orang yang sedang bermusuhan (berpencar-pencar). Namun seiring dengan menggelindingnya waktu, akhirnya kami pun dapat saling mengenal satu dengan lainnya. Dan dari situ gw dan kelompok gw mulai beraksi selayaknya sekelompok pasukan khusus yang sedang membuat rencana besar-besaran *mungkin SWAT atau DENSUS pun kalah jauh kalau dibandingkan dengan kelompok gw. Halah....
Hari pertama acara gw jalani dengan perasaan boring setengah mampus. Gimana gak boring kalau selama seharian gw cuma duduk diem, terus dengerin orang ngasih arahan dan teori. Hari keduanya gw jalani dengan sedikit canda-gurau dengan kelompok gw sambil bikin skema dan desain untuk berita koran yang akan diterbitkan oleh kelompok gw. Wih gila gw gak nyangka ternyata dibalik wajah-wajah "madesu" monyet-monyet ini, terdapat jiwa kuli (kerja keras) yang dengan terpaksa harus gw berikan dua jempol sekaligus *hehehe..gak ding...
Hari ketiga adalah hari yang paling berat plus berkeringat. Soalnya pas hari ketiga ini masing-masing anggota sudah harus memiliki bahan dan juga sudah harus selesai menge-print untuk segera di tempelkan pada lembar desain keesokan harinya. Macem-macem sih bahannya, ada yang tugasnya membuat foto lepas, ada yang buat head-line, ada yang buat grafik, pokoknya macem-macem deh. Dari situ gw merasa kalau kelompok gw itu ternyata kelompok yang bisa diajak kerja sama. Tidak ada rasa egoisme, mereka semua mau bekerja dan berusaha alias gak ada yang mau berbuat gabut *gak mau kerja. Hari ketiga berjalan dengan tegang dan berat.
Tibalah akhirnya pada hari ke empat. Hari yang paling menentukan dan penuh dengan kekhawatiran, takut korannya tidak selesai tepat pada waktunya. Hari itu kelompok gw berkumpul pada jam setengah delapan pagi, dan kami langsung mengumpulkan tugas kami masing-masing dan menempelkannya sesuai rancangan. Lem, gunting, printer, penggaris, dan laptop semuanya kami keluarkan untuk menyatukan hasil karya kami ini. Dengan sedikit perdebatan dan masukkan-masukkan dari tiap anggota, dengan secepatnya kami menempelkan semua bahan kamike kertas kerja kelompok kami.
Semua bahan telah selesai di tempel dan siap dikumpulkan. Setelah kami menempelkan bagian terakhir yaitu logo koran kebanggaan kami, dengan perasaan harap-harap cemas kelompok kami mengumpulkan koran kami setengah jam sebelum batas waktu pengumpulan terakhir dan koran kami di pajang pada urutan pengumpulan ke-9.
Setelah semua kelompok mengumpulkan korannya, jangtung kami tambah berdegup dengan kencang seperti sedang menonjok dari dalam. Panitia pun sudah siap untuk mengumumkan siapa sajakah pemenangnya. Saat itu gw gak berharap kalau kelompok gw bakalan juara, hal itu dapat dibuktikan dengan kesibukan nge-kaskus ketika para juri sedang menyebutkan nama kelompok gw sebagai juara ke-3.
Tersentak gw kaget dan lalu membanting laptop teman gw dan menginjak-injaknya *Lebay, heheheh ya enggak lah...... Dengan tangisan kemenangan gw dan kelompok gw maju ke depan dan di foto oleh ribuan paparazi *Lebay lagi. Oi ada obat anti lebay ga, buat ngilangin penyakit gw ini? heheheheh. Gw maju barang-bareng kelompok gw dan menerima sekotak kecil sebagai hadiahnya. Terus terang gw kaget, isi kotak hadiahnya apaan soalnya enteng banget mana kecil pula. Setelah selesai berfoto-foto dan bersalama-salaman kami kembali ke tempat duduk lesehan kami dan bersiap-siap untuk membuka hadiah misterius itu.
Satu, Dua, Tiga dan duar hancurlah seluruh Gonzaga den sekitarnya *hehehehe......no comment. Gubrak, ternyata hadiahnya cuma sepuluh gantungan kunci bermotif batik dengan aneka bentuk dan warna. Kami pun menangis dengan lebih kencang lagi. Bukan karena bahagia, tapi karena menyesal *parah.
Tapi di balik itu semua, terdapat begitu banyak pengalaman yang sangat berharga bagi kami semua, terlebih gw. Tidak peduli seberapa kecilnya hadiah itu, yang penting perjuangan dan pengalamannya sudah cukup buat gw. Bahkan lebih berharga. Setidaknya sekarang gw memiliki lebih banyak teman lagi sebagai keluarga.


Kamis, 27 Mei 2010

Inikah Namanya Cinta – M.E

A
saat kujumpa dirinya di suatu suasana
Bm E
terasa getaran dalam dada
A
kucoba mendekatinya kutatap dirinya
Bm E
oh dia sungguh mempesona

D C#m
ingin daku menyapanya menyapa dirinya
Bm E
bercanda tawa dengan dirinya
D C#m
namun apa yang kurasa aku tak kuasa
Bm E
aku tak tau harus berkata apa

[reff]
A
inikah namanya cinta inikah cinta
D Bm
cinta pada jumpa pertama
E A
inikah rasanya cinta inikah cinta
D Bm
terasa bahagia saat jumpa
E
dengan dirinya

A
kujumpa dia berikutnya suasana berbeda
Bm E
getaran itu masih ada
A
aku dekati dirinya kutatap wajahnya
Bm E A
oh dia tetap mempesona

D C#m Bm E
rindu terasa dikala diri ini ingin jumpa
D C#m
ingin s'lalu bersama,
Bm E
bersama dalam segala suasana


Gila...sumpah nih lagu sebenarnya udah rada lama (jadul) banget buat kita-kita yang lahir di tahun 90'an. Tapi nih lagu serasa kayak baru di rilis kalo pas kita mendengarnya di kala kita sedang jatuh cinta. Beh...so...sweet banget. ^_^ .Memang yang namanya cinta bisa membuat segalanya berputar 360 derajat.

Sabtu, 22 Mei 2010

Mencari Sebuah Jawaban Hidup

Aku terlahir sebagai anak ke-empat di dalam keluargaku. Nama panjangku adalah Robertus radinal wijayanto. Aku terlahir pada tanggal 18 November 1992 dan kini aku telah berusia 17 tahun. Pada usia remaja ku ini, aku mencoba belajar untuk hidup mandiri, dengan tinggal di sebuah asrama khusus yang berdedikasikan bagi para calon-calon imam yang masih remaja dalam menjawab panggilan-Nya. Sungguh pilihan yang berat bagi ku. Mungkinkah aku yang manja ini bisa hidup di dalam sebuah lingkungan yang di tuntut untuk hidup mandiri. Ya sudahlah mau gimana lagi, semua ini sudah terjadi.
Semenjak aku kecil, aku sudah mencoba untuk hidup mandiri. Misalnya, ketika aku sedang menginginkan sesuatu, aku berusaha untuk menabung (mengumpulkan uang) untuk membeli barang yang ku inginkan tersebut. Namun pada dasarnya aku tetaplah seorang anak kecil yang tidak dapat melakukan segalanya dengan sendiri. Dalam artian lain, bahwa aku juga seorang anak yang manja seperti pada umumnya anak-anak yang seumuran denganku ketika itu.
Namun kini aku telah beranjak dewasa, sudah seharusnya bagi diriku untuk tidak lagi menjadi anak yang manja. Setelah kurang lebih dua tahun aku tinggal di Seminari, banyak sekali manfaat-manfaat dan pengalaman-pengalaman hidup yang sungguh-sungguh mengubahku sebagai orang yang dewasa dan mandiri. Selama hidup di Seminari, aku bisa merasakan kalau diriku ini telah diolah secara tidak sadar melalui berbagai macam dinamika kehidupan yang ada, dan menjadi seorang pribadi yang dewasa dan disiplin. Memang sangatlah sulit bagiku, namun itulah harga yang harus ku bayarkan demi mendapatkan hasil yang lebih melimpah.
Entah kenapa aku bisa di terima dan masuk menjadi seorang seminaris. Kalau dilihat dari hasil tes, kemungkinan besar pasti aku tak akan diterima. Karena banyak sekali soal yang aku jawab dengan cara “nembak”, jadi aku begitu pasrah mengenai hasilnya. Aku tidak memikirkan aku diterima atau tidak, namun aku berharap aku dapat membanggakan orangtua dan menemukan jalan yang terbaik. Namun aku begitu bingung ketika ada seorang tukang pos yang datang kerumah ku, dan memberikan aku sebuah surat yang ternyata isinya kalau aku telah diterima dan lolos untuk masuk ke Seminari. Bagiku ini adalah hal yang gila, dan tak bisa kubayangkan.
Keluargaku menginginkan agar aku dapat benar-benar menjadi seorang pastor. Memang sewaktu kecil aku mencita-citakan diriku untuk menjadi seorang pastor. Namun kini keadaan sedikit mengubah tujuanku akan cita-citaku semasa kecil. Aku tak yakin kalau diriku nantinya dapat menjadi seorang pastor. Semuanya itu kini ku jalani dengan pasrah saja. Dan aku hanya dapat berharap, supaya semoga saja Tuhan dapat dengan sungguh-sungguh membimbingku ke jalan yang baik bagi hidupku kini dan kelak.
Pasti banyak orang akan bertanya “Kenapa aku mau masuk ke Seminari, kalau aku tidak yakin akan menjadi seorang pastor?”. Memang sih ada sedikit dorongan dalam diriku yang membuatku ingin mencoba menjawab panggilan-Nya. Tetapi bisa saja aku mengurungkan niatku untuk masuk Seminari, kalau aku hanya mementingkan diriku sendiri. Namun yang hingga kini membuatku bertahan untuk tetap tinggal di Seminari adalah karena betapa bangganya keluargaku kepada diriku karena aku mau menjadi pelayan Tuhan, terutama orangtuaku. Harapan dan juga dorongan mereka yang sangat besar kepadaku membuatku tidak dapat menolak karena memikirkan diriku sendiri. Aku tidak ingin membuat mereka kecewa. Aku tak ingin menjadi orang tak berguna bagi mereka. Dan melalui hal itu aku sangatlah ingin membuktikanbahwa aku memang benar-benar dapat membahagiakan mereka.
Tetap bertahan di Seminari dengan segala lika-likunya, adalah tantangan dan juga beban yang sangat berat bagiku. Dan itulah tanggung jawabku. Dalam hidup ini, masing-masing orang memiliki tugasnya sendiri-sendiri. Kita harus mampu menghadapi dan juga menyelesaikan tugas kita meskipun diperlukan sebuah pengorbanan besar. Tuhan Yesus telah rela berkorban demi kita manusia hingga titik darah penghabisan dan wafat di kayu salib. Pengorbanan-Nya sangatlah besar dan mungkin tidak sebanding dengan semua pengorbanan yang kita lakukan.
Melalui kenyataan ini aku belajar bahwa aku hidup di dunia ini memang untuk menghadapi seluruh rintangan yang menghadang diri ku. Aku tidak bisa bersantai-santai dan kabur dari permasalahan yang ku hadapi, atau aku akan mati karena terbelit oleh banyaknya masalah-masalah yang akan selalu menghampiri ku. Tuhan akan bekerja kepada orang yang mau berusaha. Namun setan bekerja kepada orang yang hanya berdiam diri serta mengosongkan hatinya, pikirannya dan juga kepercayaannya.
Mungkin melalui keluarga yang ku miliki dan juga orang-orang yang berada di sekitar ku, Tuhan telah menunjukan bahwa Ia berada dan juga bersama-sama bekerja dengan ku. Dengan kehadiran dan juga dukungan dari keluarga ku, dan kini aku menjadi lebih dikuatkan dalam menapaki setiap langkah yang ku jalani. Karena keluargaku adalah semangat panggilanku.


Robertus Radinal Wijayanto